Seandainya 22jt tidak “melayang”

Posting ke NG tentang uang 22jt yang “melayang” karena tidak dapat beasiswa, ada reply dari Ryo Saeba yang bilang: jika ada uang lagi, pakai untuk foya-foya beli DSLR Canon D20.

ihik, mimpi dah, paling maksimal alokasi setengahnya, cukup D70, D50 atau 350 D, setengahnya untuk foya-foya yang lain.

Dulu (lebih dari 15 tahun lalu) pernah beli buku fotografi, baca-baca sedikit, baca tentang diafragma, tahu kalau angka kecil di diafragma, berarti bukaannya besar, vice versa. Ngoprek kamera Yashika SLR punya kakak, cuma sebentar, mungkin hanya beberapa jepretan, maklum film mahal.

Sedikit pengetahuan tentang fotografi ini cukup membantu mengatasi kegagalan penggunaan kamera film, salah satunya adalah ketika (sekitar) tahun 1993/1994 foto dengan teman-teman kuliah waktu liburan ke Bali, setelah beberapa kali pemotretan ternyata diketahui bahwa poros/engkol (sebelah kiri) tempat menyimpan kamera tidak berputar ketika pengokang (sebelah kanan) untuk berpindah frame digerakan, ini indikasi bahwa ujung film tidak mengait, sehingga roll film tidak bergerak. Solusi waktu itu adalah membuka kembali tutup kamera dan mengulang pemasangan film, meski beberapa foto di beberapa lokasi tidak ada, tetapi cukup lumayan tidak kehilangan 100%.

Sejak tahun 2000-an, seiring dengan banyaknya produksi kamera digital, tentu saja minat untuk memiliki kamera digital cukup tinggi, baca berbagai website, DPreview, DCViews, dcresource, bobatkins.com, fotografer.net dan lainnya sebagainya, sehingga lumayan mengetahui spesifikasi beragam kamera, dari yang berharga murah sampai belasan atau puluhan juta. Juga baca beberapa e-book fotografi, tetapi semuanya akan lebih afdol jika ada kamdig untuk dicoba.

Kebutuhan untuk memiliki kamera digital, semakin bertambah dengan lahirnya Jasmine, banyak peristiwa penting yang perlu diabadikan, sebelumnya untuk keperluan foto Jasmine, masih pinjam kamdig Ixus 400 milik adik. Moment ketika Jasmine umur seminggu, sebulan, tidur dibungkus selimut, nangis tertawa, berguling, sampai dengan merangkap sudah ada dalam foto digital. Cuma periode sekarang, dimana Jasmine sudah bergerak dengan baby walker belum masuk jepretan, karena kamdig sudag dikembalikan.

Saat ini yang paling mungkin adalah beli kamera dengan budget antara 2 – 2.5 jt, sebetulnya sudah menentukan pilihan ke Canon A510, tentunya dengan berbagai kekurangan dan kelebihannya. Tetapi agak goyah karena ada info dari Doni tentang Pentax S55 yang memiliki fitur lebih bagus. Hem … sepertinya pembelian kamdig harus ditunda lagi beberapa saat, untuk memastikan pilihan yang lebih cocok.

Untuk yang baca blog ini, mohon doa-nya agar cepat memperoleh lagi uang 22jt, sehingga dapat foya-foya beli DSLR 🙂

You can leave a response, or trackback from your own site.

2 Responses to “Seandainya 22jt tidak “melayang””

  1. Risiyanto says:

    22 juta?
    hmmm buat bikin warnet, nyontek distro psn.
    koneksi dial-up dulu.
    yang penting ada server dengan hardisk 200 G buat nyimpen mp3 dan film hehehe.

  2. ryosaeba says:

    OMG, sejak data.startrek.or.id hidup lagi, bermunculan incoming link-link jadul

Leave a Reply