Khitan pada bayi perempuan
May 16, 2006
Cari informasi tentang khitan/sunat pada bayi perempuan di situs kompas.com dan situs lainnya menemukan banyak
artikel yang menarik, diantaranya:
Tanya / minta pendapat / komentar:
Apakah disini bapak/ibu (ataupun calon bapak/ibu) punya komentar/pendapat terhadap khitan pada anak perempuan, apakah ketika bayi anak perempuannya di khitan? di khitan sedikit ujungnya saja? sebagian? atau semua?
Posted in
content rss
May 18th, 2006 at 08:22
aku juga masih cari tau … nuwun link2 ini …
May 18th, 2006 at 13:59
Mohon mangap kalo saya bukan bapak bahkan makin jauh dari calon bapak.
Setahu saya yang masih hijau ini nggak masalah mau khitan sedikit ataupun semua selama yang dihilangkan adalah kulit di atas clitoris.
Jangan sampai mal praktek yang sering terjadi malah keseluruhan hingga clitorisnya yang dipotong.
Secara agama saya tidak tau mana yang dianjurkan.
=D
May 20th, 2006 at 21:47
seperti yg telah saya tulis daripada di artikel saya, di keluarga saya, yg perempuan dikhitan dg cara DIGORES SEDIKIT…
demikian…
May 23rd, 2006 at 20:42
Menurut saya, khitan bagi perempuan bukanlah sesuatu yang diwajibkan. Menurut yang pernah saya baca, ada perbedaan mengenai hukum, dan semua itu diserahkan kepada yang mana yang baik menurut si pelaku. Tetapi saya cendrung ke tidak usah saja.
May 26th, 2006 at 00:08
hmmm.. dulu waktu kecil aku juga dikhitan, kata ortu sih kalo untuk cewe cuma dibersihin aja. ga ngerti juga prosesnya gimana.. tapi ga begitu lama kok…
July 26th, 2006 at 13:15
Khitan perempuan yg benar ternyata justru bermanfaat. Gimana khitan yg benar itu ??? Silakan bergabung di milis ini :
http://groups.yahoo.com/group/khitancewek/
Ada banyak diskusi, foto dan gambar
Milis ini dimoderasi dan bebas dari SARA politik dan spam
September 15th, 2006 at 07:23
mohon maaf numpang nanya!
saya mau buat TA tentang sunat perempuan dalam segi kesehatan dan gender
kalo ada yang punya referensi literatur, buku-buku, mohon bisa di kirimkan lewat email saya lilpisc_dhaoes@yahoo.com matur nuwun…
October 10th, 2006 at 11:36
Bagi saya khitan perempuan, dalam bentuk apapun juga tetap tidak boleh dilakukan. Tujuan utamanya kan mendiskriminasikan hak perempuan untuk menikmati seksualitasnya, dan itu dikebiri mentah-mentah oleh budaya patriarki lewat khitan perempuan. Dan, khitan itu banyak dilakukan saat perempuan masih bayi, gimana gak kesakitan tuh baby?
Pokoknya, stop kekerasan terhadap perempuan dalam berbagai bentuk. Kalau masih ada yang berdalih atas nama agama Islam bahwa khitan perempuan itu sunat, Oke, kalau anda mau cari pahala nggak perlu lah dengan menikmatinya di atas penderitaan orang lain.
Salam,
December 11th, 2006 at 16:33
ada yg tau buku-buku tentang info IGOS ga?buat referensi baca2. dapet tgs paperTrail niy,,,,tlg yaaaaa,,,,
February 8th, 2008 at 16:34
pokoknya saya harap banget tuh aturan atw hukum atw apa lah namanya untuk SECEPATNYA DICABUT !!!
bagaimana pun perempuan juga berhak menikmati kehidupan seksualnya, terutama nanti setelah mereka menikah.
Saya sebagai cowok yang sangat-sangat menyayangi dan mencintai perempuan(pacar saya) sangat mendukung hak perempuan untuk dapat sama-sama menikmati aktivitas atw kehidupan seksual,baik dengan pacar ataupun setelah menikah.
February 26th, 2008 at 18:21
Kenapa medis melarang sunat perempuan?
- karna sangat merugikan hak perempuan untuk dapat menikmati kehidupan seksual seperti laki-laki
- karna berdampak buruk pada kesehatan perempuan. bayangkan jika terjadi infeksi setelah sunat
- dari segi medis sendiri tidak ada prosedur medis pelaksanaan sunat perempuan itu sendiri, makanya tidak dapat dipertanggungjawabkan jika terjadi kekeliruan/ kerugian
- sunat perempuan merupakan kekerasan terhadap perempuan
June 25th, 2010 at 01:23
Here’s an interesting finding on the benefits of Islamic female circumcision (hoodectomy -removal of the prepuce of the clitoris) which I must share with you. In contrast to those who say that it affects women’s sexual pleasure, there are many research studies proving that it actually improves the sex life of women. The latest is the recent study Orgasmic Dysfunction Among Women at a Primary Care Setting in Malaysia. Hatta Sidi, and Marhani Midin, and Sharifah Ezat Wan Puteh, and Norni Abdullah, (2008) Asia Pacific Journal of Public Health, 20 (4) accessible http://myais.fsktm.um.edu.my/4480/ which shows that being Non-Malay is a higher risk factor for Orgasmic Sexual Dysfunction in women, implying that Malay women experience less problems in achieving orgasm than non-Malay women. As you know almost all Malay women in Malaysia are circumcised (undergo hoodectomy) in contrast to non-Malay women who are not. This would suggest that hoodectomy does in fact contribute to an improved sex life in women rather than diminishing it as some argue. For more details see http://www.hoodectomyinformation.com