Cara Mengatasi Ujian Tanpa Belajar

Cara Mengatasi Ujian Tanpa Belajar

Sumber: http://zenhabits.net/2010/02/ace-exams/
Penerjemah: Ivan Lanin

Catatan editor: Ini adalah tulisan tamu dari Scott Young dari ScottYoung.com.

Waktu SMA, saya jarang belajar. Meskipun demikian, saya lulus di peringkat kedua di kelas saya. Di perguruan tinggi, saya biasanya belajar kurang dari satu jam atau dua hari sebelum ujian utama. Namun, selama empat tahun, IPK saya selalu di antara nilai A dan A+.

Baru-baru ini saya harus mengikuti ujian hukum yang berbobot 100% dari nilai akhir. Sayangnya, saya sedang di luar negeri dan baru kembali dengan pesawat pada larut malam hari Minggu, padahal saya harus mengikuti ujian pada pukul 9 hari Senin paginya. Saya mendapat nilai A setelah hanya sempat membaca satu jam di pesawat.

Saya duga, sebagian besar dari Anda mungkin berpikir saya hanya seorang brengsek nan sombong. Dan, jika cerita berakhir di sini, Anda mungkin benar.

Mengapa beberapa orang dapat belajar dengan cepat?

Kenyataannya adalah sebagian besar dari prestasi saya relatif biasa-biasa saja. Saya sudah berkesempatan untuk bertemu poliglot yang menguasai 8 bahasa, orang yang menguasai tiga bidang ilmu, serta siswa yang meningkat dari rata-rata C atau B menjadi A+ dengan waktu belajar yang lebih pendek.

Kisah ini bukanlah tentang betapa hebatnya saya (saya jelas tidak) dan juga bukan tentang prestasi fantastis pelajar lain. Kisah ini bercerita tentang sebuah pemahaman: bahwa orang pintar tidak hanya belajar lebih baik, mereka juga belajar dengan cara berbeda.

Strategi yang berbeda inilah, tidak hanya semata keberuntungan dan kesombongan, yang membedakan pelajar cepat dari orang-orang yang berjuang untuk belajar.

Sebagian besar sumber mengatakan bahwa sumber perbedaan nilai IQ dalam suatu kelompok kira-kira setengah gen dan setengah lingkungan. Saya tidak akan mengurangi angka itu. Beberapa orang mendapat bagian lebih besar dari gen. Beberapa orang tua membacakan Chaucer dan mengajarkan mekanika kuantum untuk anak-anak mereka.

Namun, di luar kemewahan itu, jika pelajar cepat punya strategi yang berbeda untuk belajar daripada siswa biasa, tidakkah Anda ingin tahu strategi itu?

Strategi yang membedakan pelajar cepat

Cara terbaik untuk memahami strategi belajar cepat adalah dengan melihat kebalikannya, pendekatan yang ditempuh kebanyakan orang: menghafal di luar kepala.

Menghafal di luar kepala didasarkan pada teori bahwa jika Anda melihat suatu informasi cukup sering, informasi itu akan secara ajaib disimpan di dalam kepala Anda.

Ini bukan teori yang buruk jika otak Anda seperti komputer. Komputer hanya perlu satu upaya untuk menyimpan informasi sempurna. Namun, dalam praktiknya, menghafal berarti membaca informasi berulang-ulang. Jika Anda harus menyimpan berkas 10 kali dalam sebuah komputer untuk memastikan hal itu disimpan, Anda mungkin akan membuangnya ke tempat sampah.

Strategi belajar cepat berbeda. Alih-alih menghafal di luar kepala, pelajar cepat menyimpan informasi dengan menghubungkan ide. Bukannya melakukan pengulangan, mereka menemukan hubungan. Hubungan ini membuat jaringan pengetahuan yang bekerja bahkan ketika Anda lupa satu bagian.

Jika dipikir, gagasan bahwa pelajar yang berhasil membuat jaringan memiliki daya tarik intuitif. Otak bukanlah diska keras komputer, dengan jutaan bit dan bita dalam urutan linier. Otak adalah jaringan terjalin dari triliunan neuron.

Mengapa tidak mengadopsi strategi yang serupa dengan cara otak Anda benar-benar bekerja?

Bukan suatu ide yang baru, melainkan ide yang benar-benar kurang dimanfaatkan

Ini bukanlah ide baru, dan saya jelas bukan penemunya.

Polimatematikawan, ilmuwan kognitif, dan peneliti kecerdasan buatan, Marvin Minsky pernah berkata:

“Jika Anda memahami sesuatu hanya dengan satu cara, maka Anda tidak benar-benar memahaminya. Rahasia tentang apa makna sesuatu bagi kita tergantung pada bagaimana kita menghubungkannya ke hal-hal lain yang telah kita ketahui. Representasi yang terhubung baik membuat Anda dapat membentuk ide di dalam pikiran Anda, membayangkannya dari berbagai perspektif, sampai Anda menemukan satu yang bekerja untuk Anda. Dan itulah yang kita sebut berpikir!” [penekanan dari saya]

Benny Lewis, poliglot dan penutur 8 bahasa, baru-baru ini mengambil tugas mempelajari bahasa Thailand dalam dua bulan. Salah satu pekerjaan pertamanya adalah menghafal sebuah naskah fonetik (Bahasa Thai memiliki aksara yang berbeda dengan bahasa Inggris). Bagaimana dia melakukannya?

“Saya melihat [sebuah simbol aksara Thailand] dan perlu menghubungkannya dengan ‘t’. Saya memikirkan sejumlah kata umum yang dimulai dengan ‘t’, namun tak satu pun dari beberapa kata yang terpikir pertama yang cocok. Tapi kemudian saya menemukan toe (jari kaki)! Simbol tampak sangat mirip jempol kaki Anda, dengan lingkaran yang mewakili kuku jari kaki kedua (jika melihat pada kaki kiri). Ini sangat mudah diingat dan sangat sulit untuk dilupakan! Sekarang saya langsung ingat ‘t’ ketika saya melihat simbol ini.

Butuh waktu, tapi saya berhasil membuat hubungan macam itu untuk semua [75] simbol. Ada yang lucu, aneh, terkait dengan seks, atau bahkan kekanak-kanakan. Beberapa membutuhkan peluasan khayalan untuk membuatnya bekerja. Apa pun yang dapat membantu saya mengingat.”

Sarjana Inggris yang terkenal, Daniel Tammet, memiliki kemampuan untuk mengalikan angka 5 digit di kepalanya. Dia menjelaskan bahwa ia bisa melakukan ini karena setiap angka, untuk dia, memiliki warna dan tekstur. Dia tidak hanya melakukan perhitungan belaka, ia merasakannya.

Semua orang ini percaya pada kekuatan penautan ide. Menghubungkan ide bersama, seperti dijelaskan Minsky. Menghubungkan ide dengan gambar yang kita kenali, seperti Lewis. Atau bahkan memadukan bentuk dan sensasi yang dikenali dengan konsep abstrak untuk membuatnya lebih nyata seperti yang dilakukan Tammet.

Bagaimana Anda dapat menjadi pelajar cepat?

Oke, semua ini tampaknya luar biasa, tapi bagaimana Anda benar-benar melakukannya?

Saya tidak akan menyarankan Anda dapat menjadi Tammet, Lewis, atau Minsky semalam. Mereka telah menghabiskan waktu bertahun-tahun mematangkan metode mereka. Dan tidak diragukan lagi, sebagian dari kesuksesan mereka juga dipengaruhi oleh faktor genetik atau lingkungan di awal kehidupan mereka.

Namun, setelah menulis tentang ide ini selama beberapa tahun, saya telah melihat orang yang berhasil membuat perbaikan drastis dalam metode pembelajaran mereka. Meskipun butuh latihan, tetapi para siswa telah memberi tahu bahwa mereka sekarang mendapatkan nilai yang lebih baik dengan lebih sedikit stres, satu orang bahkan menyumbangkan metode yang memungkinkan dia untuk mendapatkan pembebasan ujian untuk ujian utama.

Beberapa teknik untuk belajar dengan penghubungan

Berikut adalah beberapa taktik terpopuler yang saya uji cobakan dengan dan usulkan kepada siswa lain:

1. Metafora dan analogi

Ciptakan metafora sendiri untuk ide-ide yang berbeda. Kalkulus diferensial tidak perlu hanya menjadi sebuah persamaan, tapi dapat menjadi odometer dan speedometer di mobil. Fungsi dalam pemrograman komputer bisa seperti peraut pensil. Neraca untuk perusahaan dapat menjadi seperti sistem peredaran darah.

Shakespeare banyak menggunakan metafora untuk menciptakan citra yang jelas bagi para pembacanya. Dosen Anda mungkin bukan pujangga, tetapi Anda dapat masuk dan mencobanya sendiri.

2. Visceralization

Visceralization adalah portmanteau (leburan kata) dari visceral (mendalam) dan visualization (visualisasi). Tujuannya di sini adalah untuk membayangkan gagasan abstrak sebagai sesuatu yang lebih nyata. Bukan hanya dengan membayangkan sebuah gambar, tetapi dengan mengintegrasikan suara, tekstur, dan perasaan (seperti yang dilakukan Tammet).

Sewaktu belajar bagaimana mencari determinan dari suatu matriks, saya membayangkan tangan saya meraup salah satu sumbu dari matriks dan menjatuhkannya ke matriks lain, untuk mewakili penambahan dan pengurangan unsur-unsurnya.

Sadarilah bahwa Anda sudah melakukan hal ini, hanya mungkin tidak sampai tingkat yang sama. Sewaktu Anda melihat grafik atau diagram pai untuk suatu ide, Anda mengambil sesuatu yang abstrak dan membuatnya lebih nyata. Lebih kreatiflah dalam mendorongnya selangkah lebih maju.

3. Metode untuk anak umur 5 tahun

Bayangkan Anda harus menjelaskan topik tersulit bagi Anda untuk anak umur 5 tahun. Sekarang praktikkan itu.

Mungkin mustahil untuk menjelaskan termodinamika untuk anak kelas satu, tapi proses penjelasan memaksa Anda untuk menghubungkan ide-ide. Bagaimana Anda menjelaskan konsep-konsep yang lebih luas dengan lebih sederhana yang dapat membuat seorang anak mengerti?

4. Diagram

Pemetaan pikiran (mindmapping) menjadi semakin populer sebagai cara untuk menyimpan informasi. Prosesnya diawali dengan satu ide sentral dan curahan pikiran ide yang terpaut. Tapi pemetaan pikiran hanyalah bagian kulitnya.

Pembuatan diagram atau gambar memungkinkan Anda menghubungkan berbagai ide di atas kertas. Alih-alih mencatat dengan linier, yang tersusun secara hierarkis, bagaimana jika Anda mencatat dengan menghubungkan semua ide yang Anda pelajari?

5. Pengisahan (storytelling) untuk mengingat angka dan fakta

Penandaan (pegging) adalah metode yang telah digunakan orang selama bertahun-tahun untuk menghafal sejumlah besar angka atau fakta. Yang membuat unik adalah bahwa hal itu tidak hanya memungkinkan orang untuk melakukan prestasi yang menakjubkan mental (meskipun bisa), tetapi cara ini juga memungkinkan orang untuk mengingat informasi dengan menghubungkan angka dengan sebuah cerita.

Pegging sedikit di luar lingkup artikel ini, tetapi ide dasarnya adalah bahwa setiap angka diwakili oleh bunyi konsonan (misalnya: 0 = c, 3 = t, 4 = d …). Hal ini memungkinkan Anda untuk mengubah setiap angka ke dalam serangkaian konsonan (4.304 = dtcd).

Sistim ini memungkinkan Anda untuk menambahkan sejumlah vokal di antara huruf konsonan untuk membuat kata benda (dtcd = dot code). Anda kemudian dapat mengubah daftar kata benda ke dalam sebuah cerita (The dot was a code that the snake used…). Selanjutnya yang perlu Anda lakukan hanyalah mengingat urutan cerita untuk mendapatkan kata benda, konsonan, dan kembali ke angka.

Cara belajar kita salah

Anak-anak cenderung lebih imajinatif, kreatif, dan, dalam banyak hal, merupakan perwujudan strategi belajar cepat ini. Mungkin karena sistem sekolah saat ini, atau mungkin karena konsekuensi dari pertumbuhan menjadi dewasa, kebanyakan orang pada akhirnya menekan naluri ini.

Kebenaran yang menyedihkan adalah bahwa gaya belajar formal membuat proses belajar kurang menyenangkan. Kimia, matematika, ilmu komputer, atau sastra klasik harus menelurkan ide-ide baru, tautan dalam pikiran, serta kemungkinan yang menarik. Bukan semata jawaban yang tepat untuk sebuah ujian standar.

Ironisnya adalah bahwa mungkin jika cara belajar yang kekanak-kanakan dan informal tersebut kembali, bahkan jika hanya sebagian, mungkin lebih banyak orang akan berhasil justru pada ujian tersebut. Atau setidaknya menikmati proses belajarnya.

You can leave a response, or trackback from your own site.

3 Responses to “Cara Mengatasi Ujian Tanpa Belajar”

  1. kusut says:

    halo

    walopun menarik, saya tetap merasa bahwa hal ini bisa dilakukan hanya oleh orang2 tertentu. ga semua orang mampu melihat higher abstraction

    Lewis tentu mempunyai otak yang lumayan untuk me-mapping aksara Thailand. Dan Tammet jelas mengidap sinestesia (dan menurut saya juga pasti memiliki otak yang lumayan)

  2. fanny_21 says:

    Halo, menarik c. saya jg termasuk yg bljr sks dan nilai lmyn (kecuali benci bener ma th matkul n matkulny byk rumus!)

    tp saya ga make metode2 diatas th terutama untuk hapalan. kalo soal itungan jelas hrs latihan byk

  3. qodri says:

    Saya percaya dengan hal itu,itulah kelebihan otak kita,saya pun selalu belajar dan mengingat pelajaran dengan mengkaitkannya dengan kehidupan sehari hari, contoh dalam menghapal pasal 363 KUHP (ttg pencurian) saya selalu menginngat pencuri di rumah teman, dan banyak hal lainya, cara seperti itu yg membuat saya mampu lulus S1 hukum negeri dengan nilai yg baik tanpa stres dan mendapatkan kerjaan yg diinginkan. Selain iitu ilmu hipnotis diri ‘kamu adalah apabyg akmu pikirkan’ sebelum ujian saya selalu fokus memikirkan diri saya menjadi seorang profesor hukum yg sedang menulis makalah atau jurnal hukum, sehiingga tangan saya lancar menulis, tentunya hal ini bisa dilakukan jika saat dosen menjelaskan kita mendengarkan, lalu kita kaji dan kaitkan dengan kehidupan kita, percayalah otak kita mampu melakukan hal yg luar biasa

Leave a Reply