Workshop Open Source dan IGOS Nusantara di Bogor

Workshop Open Source dan IGOS Nusantara di Bogor

Hari: Kamis, 22 Desember 2011
Tempat: Lantai 7 Grha Telkom Bogor
Waktu: 09.00 s/d 15.00

Acara:
08.00 s/d 09.00 Registrasi Peserta
09.00 s/d 10.30 Peluang Pemanfaatan Open Source Dengan Maksimal
Oleh Teddy Sukardi (Pembina GempITa/Wakil Industri di
Asosiasi Open Source Indonesia)
10.30 s/d 12.00 Sosialisai & Workshop IGOS Nusantara
Oleh Nana Suryana dan Ibnu Yahya (Pengembang IGOS Nusantara)
12.00 s/d 13.30 Istirahat
13.30 s/d 15.00 Workshop IGOS Nusantara Lanjutan

Peserta workshop konfirmasi dengan mengirim email ke:
pengurusgempita@gmail.com

Build ulang rpm dan metode kompresi

Build ulang berkas rpm dilakukan untuk beberapa alasan,
antara lain untuk mengganti metoda kompresi yang dipakai.
Metoda kompresi xz atau lzma memberikan rasio kompresi yang tinggi
dibanding gzip ataupun bzip2.
Perubahan konfigurasi untuk memilih metoda kompresi ada di
berkas /usr/lib/rpm/macros 

# Tipe kompresi untuk paket sumber atau biner
# "w9.gzdio"      gzip level 9 (default).
# "w9.bzdio"      bzip2 level 9.
# "w7.xzdio"      xz level 7, xz's default.
# "w7.lzdio"      lzma-alone level 7, lzma's default

%_source_payload       w7.lzdio
%_binary_payload       w7.lzdio

Build ulang google-chrome*.rpm yang memakai kompresi default (gzip atau bzip2)
besarnya 38 MB, sedangkan jika memakai xz atau lzma menjadi 28 MB.

Mengapa Distro tertentu berbasis Distro lain?

Ada pertanyaan tentang distro Linux yg memakai basis distro lain.
Berikut beberapa fakta terkait hal ini:

Ubuntu yg disponsori oleh Canonical dengan uang jutaan dollar pakai basis debian, tidak buat sendiri.

CentOS cukup sukses, tidak buat sendiri.

ChromeOS yg dikembangkan google juga tidak buat dari awal.

 

Contoh lain Android: Banyak yg dapat untung dengan “hanya” tinggal pakai Android di beragam smartphone.

Androis sendiri apakah buat semuanya dari awal?

Tidak, pakai kernel yg sudah ada.

 

Apa yg terjadi dengan Symbian yg dikembangkan dari awal oleh Nokia?

Symbian dikembangkan dengan menghabiskan

jutaan dollar, saat ini sangat lemah posisinya.

 

Satu bagian kecil dari distro, misal untuk membuat

sistem paket sendiri, dikerjakan cukup lama,

perlu beberapa orang dengan kemahiran (cukup) tinggi.

 

Di Indonesia mungkin hanya sedikit orang yg

mau dan bisa mengerjakan distro dari awal.

Investasi (sumber daya dan dana) di bagian

ini tidak terlihat manfaat besarnya.

 

Untuk buat sendiri suatu distro dan

dikembangkan secara terus menerus

perlu sumber daya yg besar dan waktu

yg tidak singkat.